TEAM ADVOKASI HONG KONG KUNJUNGI ERWIANA

Siaran Pers 25 Februari 2014
Juru Bicara Team Advokasi Kasus Erwiana di Indonesia
– Iwenk Karsiwen, ATKI-Indonesia (081281045671) 
– Antik Pristiwahyudi, IMWU-Indonesia (082244193737)

“TEAM ADVOKASI HONG KONG KUNJUNGI ERWIANA”

Tiga anggota Team Advokasi Hong Kong berkunjung ke Ngawi, Jawa Timur, untuk melihat secara langsung kondisi Erwiana Sulistyaningsih dan menyiapkan dia untuk persidangan yang akan diselenggarakan di Hong Kong pada tanggal 25 Maret 2014 mendatang. Mereka berkunjung dari tanggal 24 – 26 Februari 2014.

Delegasi Hong Kong tersebut terdiri dari Cynthia Tellez (Direktur Mission for Migrant Workers/MFMW), Isabel Chang (Program Officer Mission for Migrant Workers/MFMW) dan Eni Lestari (Koordinator Komite Keadilan Untuk Erwiana dan Seluruh PRT). 

“Team Advokasi Hong Kong telah bertemu dan menjelaskan kepada keluarga, kuasa hukum dan kami tentang perkembangan kasus pidana dan perdata yang melibatkan Erwiana di Hong Kong” jelas Antik Pristiwahyudi dari IMWU-Jakarta.

Menurut Ms. Cynthia Tellez, Erwiana adalah korban dan saksi bagi kasus kriminal yang diajukan pemerintah Hong Kong menuntut majikannya Law Wan Tung. Disisi lain, Departemen Tenaga Kerja Hong Kong juga memfasilitasi tuntutan keuangan Erwiana yang meliputi hak gaji, libur mingguan dan nasional, cuti tahunan. Pada saat yang bersamaan, Departemen Tenaga Kerja juga mengajukan kasus pidana terhadap Law Wan Tung yang dinilai telah melanggar hukum perburuhan di Hong Kong. Lebih dari itu, Erwiana juga sedang mengajukan kasus perdata ganti rugi terhadap Law Wan Tung atas luka-luka dan kerugian yang dialaminya.

“Erwiana siap menjadi saksi di pengadilan Hong Kong menuntut majikannya tetapi berharap agar bisa menunggu hingga kesehatannya benar-benar pulih” tambah Antik.

Di sela-sela kunjungan, Ms. Cynthia Tellez juga menyempatkan bertemu pihak Rumah Sakit Kasih Ibu di Solo yang membantu check-up reguler Erwiana untuk meminta keterangan lebih lanjut tentang kesehatan dan imbas jangka panjang dari luka-luka yang pernah dialaminya.

Erwiana Sulistyaningsih, buruh migran korban penyiksaan majikan – Law Wan Tung – selama 7 bulan 14 hari bekerja padanya. Ketika fisik Erwiana semakin melemah dan tidak mampu bekerja akibat luka-luka yang dideritanya, majikan justru memulangkannya secara diam-diam pada tanggal 9 Januari 2104. Erwiana kemudian ditemukan di Bandara International Airport dan dibantu oleh Riyanti yang sedang pulang ke Indonesia.

“Kasus Erwiana hanyalah salah satu dari kasus penganiayaan yang menimpa buruh migran diluar negeri. Di tahun 2013, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) menerima sebanyak 2.643 kasus dari Hong Kong, Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan” tegas Iweng Karsiwen dari ATKI-Indonesia.
Iweng menambahkan membludaknya jumlah kasus yang dialami oleh buruh migran diluar negeri adalah akibat dari buruknya sistem penempatan yang menyerahkan semua urusan kepada PPTKIS, mulai penempatan hingga perlindungan.

“Calon burun migran dikurung di dalam penampungan layaknya dipenjara atas nama training. Sedihnya, semua diharuskan membayar mahal biaya penempatan (overcharging). Training yang diberikan PPTKIS juga tidak sesuai dengan kebutuhan kami diluar negeri sehingga banyak majikan kecewa dan kami sendiri buta. Erwiana adalah bukti kongkretnya” tegas Iweng Karsiwen.

Iweng Karsiwen meminta kepada pemerintah untuk intropeksi diri dan belajar dari berbagai kasus yang menimpa buruh migran seperti Erwiana, Kartika, Uul, Siti, Alm Ngatini, Satinah, Wilfrida, Kadime, Sadiyah dan banyak lagi. Pemerintah Indonesia harus menghentikan penyerahan segala urusan TKI kepada PPTKIS dan bertanggungjawab untuk memberikan training pra pemberangkatan sendiri.

“Pemerintah harus meyakinkan keselamatan kerja buruh migran dengan memberi training yang mencakup bahasa, informasi tentang hukum negara penempatan, sosial budaya masyarakat di negara tujuan, hak-hak pekerja dan keselamatan kerja. Lebih dari itu, traning harus diberikan gratis. Juga beri pilihan kepada buruh migran untuk keluar negeri sendiri atau menggunakan jasa PPTKIS/agen ketika mengurus kontraknya” tuntut Iweng Karsiwen.

Yang memperbudak buruh migran adalah sistem penempatan TKI yang sangat buruk. Pemerintah harus belajar dan merubah seluruh peraturan yang memperbudak tersebut agar kasus-kasus seperti Erwiana bisa diminimalkan.

image

Posted from WordPress for Android

Iklan

Tentang fendyrahayu

aku buruh tani , belajar nulis lan nyebar info sing kiro-kiro onok guno
Pos ini dipublikasikan di fendyrahayu, fendyponorogo, BMI HK maju dan cerdas dan tag . Tandai permalink.

5 Balasan ke TEAM ADVOKASI HONG KONG KUNJUNGI ERWIANA

  1. totokaryanto berkata:

    Salut dan terus semangat. Semoga perjuangan anda dan teman2 senantiasa mendapat ridho dan perlindunganNya. Amien.

  2. totokaryanto berkata:

    Reblogged this on Suara Pinggir Kali Lukulo and commented:
    Bangsa Indonesia memang telah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 melalui perjuangan panjang dan menimbulkan korban tak ternilai dengan takaran logika apapun. Kini, justru dijajah oleh bangsa sendiri terutama oleh sekte-sekte yang menguasai berbagai sisi kehidupan, Buruh migran atau TKI mestinya diperlakukan sebagai manusia yang berderajat sama. Jangan bedakan dengan Diaspora Indonesia yang telah meraih sukses. Apapun dalihnya, perbudakan jelas melanggar kaidah agama dan negara. Sebagai warga bangsa dan generasi penerus pelajar pejuang kemerdekaan (ex Tentara Pelajar), saya dukung upaya Buruh Migran Indonesia atau pihak manapun yang memperjuangkan makna kemerdekaan. Khususnya dalam hal menjunjung tinggi perikemanusiaan dan peri keadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s